Muslimat NU dan YAICI Edukasi Gizi di Ternate, Bahas Susu Kental Manis untuk Balita

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:31 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PENCEGAHAN STUNTING - Narasumber menyampaikan materi dalam Talkshow Edukasi Gizi “Meluruskan Persepsi tentang Susu Kental Manis” yang digelar PP Muslimat NU bersama YAICI di Maluku Utara, membahas pentingnya pemenuhan gizi anak dan bahaya kesalahan persepsi terhadap susu kental manis bagi balita, Rabu (19/8/2026). (Dok: Wahana Malut/Tia).

PENCEGAHAN STUNTING - Narasumber menyampaikan materi dalam Talkshow Edukasi Gizi “Meluruskan Persepsi tentang Susu Kental Manis” yang digelar PP Muslimat NU bersama YAICI di Maluku Utara, membahas pentingnya pemenuhan gizi anak dan bahaya kesalahan persepsi terhadap susu kental manis bagi balita, Rabu (19/8/2026). (Dok: Wahana Malut/Tia).

WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Kebiasaan masyarakat memberikan susu kental manis (SKM) kepada bayi dan balita menjadi salah satu persoalan dalam pemenuhan gizi anak.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow Edukasi Gizi Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), bertajuk “Meluruskan Persepsi tentang Susu Kental Manis” di Hotel Jati, Kota Ternate, Rabu (19/8/2026).

Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Maluku Utara juga menyoroti angka stunting di daerah tersebut. Data survei 2024 mencatat prevalensi stunting Maluku Utara sebesar 23,2 persen.

Informasi Wahana Malut

Angka itu turun dari 23,7 persen pada 2023. Namun, prevalensi stunting Maluku Utara masih berada di atas angka nasional sebesar 19,8 persen.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Maluku Utara, Dr. Aspar Abdul Gani, mengatakan Kota Tidore Kepulauan dan Ternate memiliki prevalensi stunting yang relatif lebih rendah.

Sementara itu, sejumlah daerah lain masih menghadapi persoalan stunting. Salah satunya Kabupaten Halmahera Selatan yang memiliki jumlah penduduk cukup besar.

Menurut Aspar, masyarakat masih perlu mendapat edukasi tentang penggunaan SKM. Sebagian orang tua masih menganggap semua produk susu memiliki kandungan gizi yang sama.

Padahal, SKM mengandung gula dalam jumlah tinggi. Karena itu, Dinkes Maluku Utara tidak merekomendasikan SKM sebagai asupan gizi bayi dan balita.

“Dinkes tidak merekomendasikan pemberian susu kental manis bagi bayi dan balita. Kalau ada indikasi medis sehingga ASI tidak dapat diberikan, maka pemberian susu formula harus melalui rekomendasi dan pengawasan dokter spesialis anak,” ujar Aspar.

Pentingnya Gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Aspar mengatakan orang tua perlu memperhatikan pemenuhan gizi sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode tersebut berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Menurutnya, orang tua perlu menerapkan empat strategi pemberian makan bayi dan anak (PMBA). Strategi itu meliputi inisiasi menyusu dini (IMD), ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI), serta melanjutkan ASI hingga anak berusia dua tahun.

Baca Juga:  Paskibraka Kota Ternate Dikukuhkan, 62 Anggota Siap Kibarkan Bendera HUT ke-81 RI

Bayi perlu mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, orang tua dapat memberikan MP-ASI sesuai usia dan kebutuhan anak.

Muslimat NU Dorong Edukasi dari Hati ke Hati

Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan pihaknya memanfaatkan jaringan organisasi hingga tingkat akar rumput untuk memberikan edukasi gizi.

Menurut Erna, pengurus majelis taklim dan ustazah memiliki kedekatan dengan jemaah. Kondisi tersebut membantu mereka menyampaikan edukasi secara personal.

“Intinya adalah pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaahnya,” ujar Erna.

Erna menilai persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi. Menurutnya, perilaku orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak juga menjadi tantangan.

Ia menemukan orang tua yang mampu membeli ikan dan telur, tetapi masih memberikan makanan atau minuman tinggi gula kepada anak. Kebiasaan tersebut muncul karena kurangnya pemahaman tentang kebutuhan gizi anak.

Muslimat NU kemudian menggandeng Dinas Kesehatan untuk memberikan pelatihan kepada para kader. Pelatihan tersebut juga membekali kader dengan pendekatan psikologis saat menghadapi ibu-ibu balita.

Muslimat NU juga menjalankan program Ibu Asuh Stunting. Melalui program itu, kader mendampingi anak yang mengalami stunting dan memantau pemenuhan kebutuhan gizinya.

Di Maluku Utara, Muslimat NU juga menjalankan program Muslimat NU Cantik Mencegah Kemiskinan Ekstrem (Mustika Mesem). Program tersebut menyasar keluarga miskin ekstrem melalui pemberian makanan bergizi.

YAICI Temukan Empat Persoalan Gizi Anak

Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudistira, mengatakan pihaknya telah melakukan edukasi dan pemantauan persoalan gizi anak di 33 provinsi Indonesia.

Dari kegiatan tersebut, YAICI menemukan empat persoalan utama. Persoalan itu meliputi kesibukan orang tua, pola konsumsi anak yang tidak terkontrol, rendahnya pemahaman tentang sumber gizi, serta kesalahan persepsi terhadap produk pangan.

“Banyak pola di mana ibunya bekerja, bapaknya bekerja, akhirnya anak dititipkan kepada kakek, nenek, atau pengasuh lainnya,” ungkap Satria.

Menurut Satria, kesalahan persepsi terhadap SKM masih menjadi tantangan besar. Ia memaparkan hasil survei Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang menunjukkan sekitar 67,6 persen balita masih mengonsumsi atau terpapar kental manis.

Baca Juga:  Hotel di Maluku Utara Makin Ramai, Tingkat Hunian Kamar Naik pada Mei 2026

Sekitar 30,4 persen balita mengonsumsi SKM secara rutin sebagai topping makanan. Satria mengatakan orang tua juga perlu memperhatikan jumlah SKM yang mereka gunakan sebagai topping.

“Hampir seluruh wilayah di Indonesia bahkan jika ditarik sejak 2016, bisa dikatakan 90 persennya menganggap kental manis itu adalah susu. Bahkan, produk tersebut diberikan kepada balita sebagai pengganti ASI,” jelasnya.

Satria menyebut harga yang relatif murah menjadi salah satu alasan orang tua memilih SKM. Iklan juga ikut memengaruhi pemahaman masyarakat tentang produk tersebut.

Berdasarkan survei yang ia paparkan, sebagian responden bahkan mendapat informasi keliru tentang SKM dari tenaga kesehatan.

YAICI Soroti Konsumsi Susu Berperisa

Selain SKM, YAICI juga menyoroti kebiasaan orang tua memberikan susu UHT berperisa secara berlebihan kepada balita.

Satria mengatakan timnya menemukan anak yang mengonsumsi susu berperisa hingga empat sampai lima kotak dalam sehari. Pada saat yang sama, anak-anak tersebut masih kekurangan asupan protein seperti ikan dan telur.

Menurut Satria, kondisi itu menunjukkan pentingnya edukasi gizi yang tidak hanya berisi larangan. Orang tua juga membutuhkan contoh makanan bergizi yang mudah mereka terapkan di rumah.

“Kesalahan konsumsi kental manis sebagai pengganti susu berkontribusi langsung pada tidak optimalnya pemenuhan gizi anak. Ketika anak minum kental manis, mereka akan merasa kenyang dan menolak makan makanan padat yang bergizi,” papar Satria.

Karena itu, Satria mendorong keluarga meningkatkan literasi gizi. Ia juga meminta tenaga kesehatan dan komunitas memperkuat edukasi kepada masyarakat.

Dinkes Maluku Utara, Muslimat NU, YAICI, kader kesehatan, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi dalam memberikan edukasi gizi.

Langkah tersebut penting untuk mendorong perubahan perilaku keluarga. Pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga masa pertumbuhan awal juga menjadi bagian penting dalam upaya menekan angka stunting di Maluku Utara. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:31 WIT

Muslimat NU dan YAICI Edukasi Gizi di Ternate, Bahas Susu Kental Manis untuk Balita

Berita Terbaru

EKONOMI - Kepala KPwBI Maluku Utara Handi Susila bersama pelaku UMKM binaan yang mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Dua UMKM wastra Maluku Utara, Putadino Kayangan dan Rapidino, tampil memamerkan produk unggulannya dalam ajang tersebut. (Dok: BI Malut).

Ekonomi

BI Maluku Utara Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat KKI 2026

Sabtu, 22 Agu 2026 - 08:58 WIT

error: Content is protected !!