Meti Cottage: Jejak Pengabdian Adi di Halmahera Utara

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:08 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WISATA - Adi, pengelola Meti Cottage, menunjukkan komitmennya mendukung pemberdayaan masyarakat lokal melalui pengembangan wisata berkelanjutan di Pulau Meti, Halmahera Utara. (Dok: Instagram Adi)

WISATA - Adi, pengelola Meti Cottage, menunjukkan komitmennya mendukung pemberdayaan masyarakat lokal melalui pengembangan wisata berkelanjutan di Pulau Meti, Halmahera Utara. (Dok: Instagram Adi)

WAHANAMALUT.COM, HALUT – Di Meti Cottage, hamparan pasir putih dan jernihnya laut biru bukan hanya latar bagi foto-foto liburan. Di baliknya, ada kisah seorang perantau yang memilih pulang, lalu perlahan menenun mimpi bersama warga pulau.

Dialah Adi, sosok di balik Meti Cottage, resort kecil yang ia jadikan ruang tumbuh bagi masyarakat lokal, bukan sekadar tempat singgah wisatawan.

Pertemuan Tak Sengaja yang Mengubah Haluan

Cerita itu bermula pada Desember 2016. Adi baru kembali dari Hamburg, Jerman, ketika sebuah percakapan di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta menarik perhatiannya. Obrolan ringan tentang keindahan Maluku Utara berlanjut menjadi diskusi di dalam pesawat bersama warga lokal. Dari situ, pandangannya pelan-pelan bergeser.

Informasi Wahana Malut

Sebelumnya, Adi sempat melirik Misool di Raja Ampat sebagai lokasi impian, namun rencana itu kandas akibat konflik lahan. Pulau Meti kemudian hadir sebagai kemungkinan baru.

Pada 2017, ia mengantongi izin operasional, keluar dari pekerjaannya di Jerman, dan memutuskan memulai hidup yang berbeda di sebuah pulau kecil di Halmahera Utara.

Bagi Adi, Meti Cottage bukan hanya bangunan di tepi laut. Ia menyebutnya sebagai alat untuk support local community, cara mengalirkan manfaat ekonomi langsung kepada warga yang tinggal di pulau yang ia pilih untuk pulang.

Baca Juga: Meti Cottage di Halmahera Utara: Destinasi Tenang yang Fotogenik Tanpa Dipaksa

Konsep Keberlanjutan dan Sentuhan Personal

Saat pertama kali mengelola Meti Cottage, Pulau Meti belum dialiri listrik seperti sekarang. Listrik baru masuk pada Januari 2023. Di masa-masa itu, Adi sengaja merancang bangunan tanpa AC, bukan karena keterbatasan semata, tetapi ia ingin menarik wisatawan yang datang untuk mencari ketenangan dan keseimbangan dengan alam.

Baca Juga:  Perubahan KUA-PPAS 2026 Disepakati, PAD Halmahera Selatan Naik Jadi Rp300,6 Miliar

“Luxury bagi mereka bukan tidur di AC, tapi keseimbangan dengan alam,” ujarnya pelan, seakan mengingat kembali tamu-tamu asing yang memilih duduk lama di tepi dermaga hanya untuk mendengarkan ombak.

Setiap sudut Meti Cottage ia desain sendiri, terinspirasi dari perjalanan dan tempat-tempat yang pernah ia datangi di berbagai negara.

Alih-alih mengejar kemewahan yang instan, Adi lebih banyak memberi perhatian pada hal-hal kecil: posisi kursi yang menghadap laut, bahan bambu dan kayu yang terasa hangat, hingga cara cahaya matahari masuk ke ruang duduk. Dari detail-detail minor itulah suasana Meti Cottage terbentuk.

Dalam operasional sehari-hari, Adi melibatkan sekitar 12–13 karyawan, dengan 80 persen di antaranya warga lokal. Bagi Adi, kehadiran wajah-wajah muda dari Pulau Meti di lobi dan dapur adalah bagian dari desain yang sama pentingnya dengan bangunan.

Dampak Ekonomi dan Tantangan di Garis Pantai

Seiring waktu, Meti Cottage mulai menggerakkan roda ekonomi kecil di Pulau Meti. Wisatawan yang datang tidak hanya mengisi kamar, tetapi juga memicu aktivitas lain: perahu ketinting yang hilir mudik menjemput tamu, pedagang di pasar tradisional yang memasok kebutuhan dapur, hingga warga yang menyediakan jasa angkut dan bantu-bantu di sekitar pulau.

Namun, di tengah geliat itu, Adi berhadapan dengan kenyataan lain yang kurang indah. Masalah sampah plastik dan tekanan terhadap ekosistem laut menjadi hal yang sering ia pikirkan.

Di depan dermaga, gerombolan ikan kecil atau school fish hampir setiap hari berenang bebas, menjadi daya tarik utama bagi tamu yang duduk memandang ke laut. Sayangnya, tidak jarang ia melihat warga yang menjaring ikan-ikan itu terlalu dekat dengan area dermaga.

Bagi Adi, ikan-ikan itu bukan sekadar “daya tarik wisata”. Ada ikatan emosional yang ia rasakan. Ia sering bercanda bahwa ia “berkomunikasi” dengan ikan-ikan di sana, berharap mereka tetap betah dan menjadikan Pulau Meti rumah yang aman.

Baca Juga:  Zulkifli Hasan: Swasembada Pangan Tak Bisa Ditawar, Pempus Siapkan Perhatian Lebih bagi Nelayan Malut

Mengelola Meti Cottage nyaris sendirian bukan hal yang ringan. Ada saat-saat ketika lelah datang, terutama saat ia harus mengurus desain, operasional, hingga reservasi tamu seorang diri.

Meski begitu, Adi menyimpan satu mimpi yang membuatnya terus berjalan: melihat anak-anak muda dari Pulau Meti sendiri berdiri di depan, menyambut tamu dari berbagai negara dengan percaya diri.

Ia merencanakan program seperti English Camp dan kursus bahasa asing, agar pemuda Meti punya bekal berkomunikasi dan melihat dunia dari pulau mereka sendiri. Dalam bayangannya, suatu hari Meti Cottage bukan hanya tempat menginap, tetapi juga ruang belajar dan bertemu bagi generasi muda pulau.

Kini, Meti Cottage berdiri mandiri dengan tingkat kepuasan pelanggan yang mencapai 9,9 dari 10, salah satu yang tertinggi di Maluku Utara.

Menariknya, Adi tidak mengandalkan platform pemesanan daring global. Semua reservasi ia layani langsung melalui WhatsApp, cara yang membuatnya bisa tetap dekat dengan tamu dan menjaga ritme kerja sesuai kapasitas pulau.

“Harapan saya adalah agar Meti ini berkembang dan banyak orang dari Meti sendiri yang menikmati hasilnya,” tandas Adi.

Di Pulau Meti, Meti Cottage mungkin terlihat seperti penginapan kecil di tepi laut. Namun bagi Adi, setiap papan kayu di dermaga, setiap kursi bambu di teras, dan setiap senyum karyawan lokal adalah bagian dari perjalanan pulang kampung yang ia pilih, sekaligus cara sederhana untuk memberi energi baik bagi tempat yang kini ia sebut rumah. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

228 UMKM Berjualan di CFD Taman Nukila Ternate, Kuliner Jadi Buruan Pengunjung
Meti Cottage di Halmahera Utara: Destinasi Tenang yang Fotogenik Tanpa Dipaksa
Wisata Ternate: Taman Love di Lereng Gamalama Tawarkan Panorama Laut, Camping, dan Senja

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:39 WIT

228 UMKM Berjualan di CFD Taman Nukila Ternate, Kuliner Jadi Buruan Pengunjung

Senin, 3 Agustus 2026 - 22:08 WIT

Meti Cottage: Jejak Pengabdian Adi di Halmahera Utara

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:49 WIT

Meti Cottage di Halmahera Utara: Destinasi Tenang yang Fotogenik Tanpa Dipaksa

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:24 WIT

Wisata Ternate: Taman Love di Lereng Gamalama Tawarkan Panorama Laut, Camping, dan Senja

Berita Terbaru

EKONOMI - Kepala KPwBI Maluku Utara Handi Susila bersama pelaku UMKM binaan yang mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Dua UMKM wastra Maluku Utara, Putadino Kayangan dan Rapidino, tampil memamerkan produk unggulannya dalam ajang tersebut. (Dok: BI Malut).

Ekonomi

BI Maluku Utara Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat KKI 2026

Sabtu, 22 Agu 2026 - 08:58 WIT

error: Content is protected !!