Zulkifli Hasan: Swasembada Pangan Tak Bisa Ditawar, Pempus Siapkan Perhatian Lebih bagi Nelayan Malut

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:44 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, menyampaikan sambutan saat Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Ternate, 5 Agustus 2026. Dok. WahanaMalut/Shal.

EKONOMI – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, menyampaikan sambutan saat Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), Ternate, 5 Agustus 2026. Dok. WahanaMalut/Shal.

WAHANAMALUT.COM, TERNATEMenteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan kebijakan swasembada pangan merupakan pilihan strategis pemerintah yang tidak dapat ditawar.

Menurutnya, kebijakan tersebut adalah keberpihakan negara terhadap petani sekaligus upaya menjaga kedaulatan pangan nasional.

Pernyataan itu disampaikan Zulkifli saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Ternate, Maluku Utara, Rabu (5/8/2026) yang diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama 10 asosiasi desa.

Informasi Wahana Malut

Dalam pemaparannya, Zulkifli membandingkan prinsip pasar bebas dengan arah kebijakan pemerintah saat ini.

“Pasar bebas itu yang kuat yang menang. Siapa yang kuat? yang kuat yang punya uang. Tetapi Presiden Prabowo menetapkan Indonesia harus swasembada pangan. Itu tidak boleh ditawar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam mekanisme pasar bebas suatu negara tidak harus memproduksi pangan sendiri selama memiliki kemampuan membeli dari luar negeri. Namun, bagi Zulkifli, pendekatan tersebut tidak sejalan dengan kepentingan Indonesia.

Baca Juga:  Lomba Unik Warnai Perayaan HUT RI ke-81 di Disnakertrans Halsel

Zulkifli mengungkapkan, pada 2024 Indonesia masih mengimpor sekitar 4,5 juta ton beras. Yang mana, kondisi itu lebih menguntungkan petani di negara lain.

“Kalau kita impor beras, yang untung itu petani luar negeri, petani Thailand, petani India, petani Vietnam. Tapi kalau kita swasembada, itu adalah kehormatan dan kedaulatan bangsa,” katanya.

Ia menilai keberhasilan swasembada pangan juga merupakan bentuk keberpihakan terhadap sekitar 170 juta masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Indonesia, kata dia, tidak akan menjadi negara maju apabila petaninya tetap hidup dalam kemiskinan.

“Kalau petani tidak berdaya, Indonesia tidak mungkin maju. Oleh karena itu kebijakannya harus berpihak kepada petani tanpa tawar,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli juga memaparkan capaian pemerintah di sektor pangan. Ia menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor beras pada 2025, bahkan mencatat surplus sekitar 4,2 juta ton.

Baca Juga:  Besok BMKG Amati Hilal Rabiul Awal di Ternate, Tingginya 6,62 Derajat

Menurutnya, capaian tersebut berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani. Nilai tukar petani, kata dia, naik dari 116 pada 2024 menjadi 125 pada 2025, kemudian mencapai 127 pada 2026.

Meski demikian, Zulkifli menyoroti kondisi nelayan yang dinilainya masih menjadi kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah. Ia menyebut nilai tukar nelayan saat ini masih berada di kisaran 103.

Menurutnya, keterbatasan sarana melaut serta minimnya keberpihakan kebijakan membuat banyak nelayan belum mampu meningkatkan taraf hidup.

“Mereka masih menjadi kelompok yang paling miskin. Kalau tidak dibantu, mereka sulit menyekolahkan anak, memiliki rumah yang layak, dan memenuhi kebutuhan hidupnya,” tandasnya. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

BI Maluku Utara Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat KKI 2026
OJK: Dana Masyarakat di Maluku Utara Tembus Rp19,54 Triliun, Naik 29,5 Persen
Peningkatan Penumpang Garuda Indonesia Rute Ternate-Jakarta Capai 90 Persen
KREF BI: Potensi Laut Maluku Utara Didorong Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Warga Malut Laporkan 1.104 Kasus Penipuan Belanja Online ke OJK
Program Rindang Berseri Ditutup, BI Maluku Utara Dorong Gerakan Menanam untuk Tekan Inflasi
Hampir Seluruh Rekening Bank di Maluku Utara Dijamin LPS, Capai 99,98 Persen
BI Malut Kembangkan Demplot Bawang Merah di Halmahera Timur, Target Produksi 10 Ton per Hektare

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:58 WIT

BI Maluku Utara Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat KKI 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:53 WIT

OJK: Dana Masyarakat di Maluku Utara Tembus Rp19,54 Triliun, Naik 29,5 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:18 WIT

Peningkatan Penumpang Garuda Indonesia Rute Ternate-Jakarta Capai 90 Persen

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:11 WIT

KREF BI: Potensi Laut Maluku Utara Didorong Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 16:51 WIT

Warga Malut Laporkan 1.104 Kasus Penipuan Belanja Online ke OJK

Berita Terbaru

EKONOMI - Kepala KPwBI Maluku Utara Handi Susila bersama pelaku UMKM binaan yang mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Dua UMKM wastra Maluku Utara, Putadino Kayangan dan Rapidino, tampil memamerkan produk unggulannya dalam ajang tersebut. (Dok: BI Malut).

Ekonomi

BI Maluku Utara Dorong UMKM Lokal Naik Kelas Lewat KKI 2026

Sabtu, 22 Agu 2026 - 08:58 WIT

error: Content is protected !!