Program Rindang Berseri Ditutup, BI Maluku Utara Dorong Gerakan Menanam untuk Tekan Inflasi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:21 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI - Suasana penutupan Program RINDANG BERSERI (Rica dan Kangkung dalam Kampung Berkualitas dan Asri) di Ternate Tengah, Jumat (14/8/2026). Program Bank Indonesia Maluku Utara bersama Pemerintah Kota Ternate dan TP PKK Kota Ternate ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Maluku Utara.

EKONOMI - Suasana penutupan Program RINDANG BERSERI (Rica dan Kangkung dalam Kampung Berkualitas dan Asri) di Ternate Tengah, Jumat (14/8/2026). Program Bank Indonesia Maluku Utara bersama Pemerintah Kota Ternate dan TP PKK Kota Ternate ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Maluku Utara.

WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Bank Indonesia (BI) Maluku Utara menutup rangkaian Program Rindang Berseri(Rica dan Kangkung dalam Kampung Berkualitas dan Asri) di Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Jumat (14/8/2026).

Penutupan tersebut menjadi akhir dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan di tujuh kecamatan di Kota Ternate sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan Rindang Berseri merupakan Program Unggulan Tahun 2026 “Maluku Utara Bangkit Jaga Inflasi” yang diwujudkan melalui gerakan menanam rica, kangkung, cabai, dan aneka sayuran di lingkungan masyarakat.

Informasi Wahana Malut

Menurut Handi, pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan melalui kebijakan moneter, tetapi membutuhkan penguatan pasokan pangan dari tingkat rumah tangga.

“Dalam menjalankan mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar, tetapi menjaga agar inflasi tetap rendah dan terkendali,” ujar Handi dalam kegiatan penutupan Program Rindang Berseri di Kantor Kecamatan Ternate Tengah.

Ia mengatakan, inflasi yang stabil bukan semata-mata persoalan angka statistik, melainkan fondasi terjaganya daya beli masyarakat, meningkatnya kesejahteraan, dan tumbuhnya perekonomian daerah secara berkelanjutan.

Ternate Catat Inflasi 4,35 Persen

Handi menyampaikan, hingga Juli 2026, Kota Ternate sebagai kota IHK dengan bobot terbesar di Provinsi Maluku Utara mencatat inflasi sebesar 4,35 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi Maluku Utara sebesar 3,95 persen.

Sementara inflasi kumulatif Kota Ternate mencapai 4,82 persen, sedangkan Maluku Utara sebesar 4,46 persen.

Baca Juga:  Harga Cabai Naik Lagi di Ternate, Pedagang: Stok Mulai Menipis

Tekanan inflasi masih didominasi kelompok volatile food, terutama komoditas ikan cakalang, tomat, cabai rawit, serta sejumlah komoditas strategis lainnya.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa pengendalian inflasi harus dimulai dari sisi hulu melalui penguatan pasokan pangan,” kata Handi.

Karena itu, BI Maluku Utara terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah.

700 Paket Bibit Dibagikan di Tujuh Kecamatan

Handi mengapresiasi sinergi dan kolaborasi Tim Penggerak PKK Kota Ternate yang telah berperan sebagai penggerak utama pelaksanaan Program Rindang Berseri di tujuh kecamatan.

Rangkaian kegiatan dimulai pada 7 Agustus 2026 di Kecamatan Ternate Utara, kemudian dilanjutkan di Kecamatan Ternate Selatan, Ternate Pulau, Ternate Barat, Pulau Moti, Pulau Hiri, hingga ditutup di Kecamatan Ternate Tengah.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan tersebut telah mendistribusikan sekitar 700 paket suvenir bibit yang terdiri atas bibit cabai dan aneka sayuran beserta peralatan pendukung.

Menurut Handi, program tersebut diharapkan tidak berhenti setelah rangkaian kegiatan resmi ditutup.

Melalui optimalisasi pemanfaatan lahan produktif, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan budidaya pangan berbasis pekarangan, RINDANG BERSERI diharapkan dapat menjadi gerakan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

“Gerakan menanam rica dan kangkung ini bukan sekadar kegiatan penghijauan ataupun lomba antarwilayah, melainkan sebagai investasi sosial untuk membangun ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga,” ujarnya.

Baca Juga:  DPP BAHU NasDem Bedah Buku Fahruddin Maloko soal Sengketa Agraria

Ketika masyarakat mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, kata Handi, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat berkurang sehingga gejolak harga menjadi lebih terkendali.

Bukan Sekadar Pembagian Bibit

Handi menegaskan keberhasilan Program Rindang Berseri tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang dibagikan maupun jumlah pekarangan yang menjadi produktif.

Program tersebut juga diharapkan mampu mendorong lebih banyak keluarga memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, meningkatkan pasokan pangan lokal, serta memberikan kontribusi terhadap pengendalian inflasi di Kota Ternate dan Provinsi Maluku Utara.

“Keberhasilan Program Rindang Berseri tentu tidak diukur dari berapa banyak bibit yang dibagikan, seberapa banyak pekarangan yang menjadi produktif, seberapa banyak keluarga yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, ataupun seberapa besar pasokan pangan lokal meningkat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengendalian inflasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, TPID, TP PKK, dan masyarakat.

“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Namun jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama,” kata Handi.

Kata Handi, pihaknya mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk terus melanjutkan semangat Rindang Berseri sebagai gerakan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga.

“Melalui sinergi dan kolaborasi yang terjalin, kita optimis mampu meningkatkan ketersediaan pasokan pangan, menjaga stabilitas harga, dan mendukung pengendalian inflasi di Provinsi Maluku Utara,” pungkasnya. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah
BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar
35 UMKM di Ternate Didorong Beralih ke Pasar Digital, Baznas Siapkan Pendampingan 3 Bulan
Nikel dan Baja Dorong Ekspor Malut Tembus US$11,77 Miliar
Inflasi Malut 5,72 Persen, Aziz Hasyim Ingatkan Pemda Soal Lonjakan Harga dan Panic Buying
Pangan Ternate Menipis, Akademisi Unkhair Desak Pemkot Intervensi Petani dan Awasi Monopoli Harga-Stok
Harga Cabai Naik Lagi di Ternate, Pedagang: Stok Mulai Menipis
Harga Rempah di Ternate 1 September 2026: Fuli Naik Jadi Rp300 Ribu, Cengkih dan Pala Stabil

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:03 WIT

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:11 WIT

BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:29 WIT

35 UMKM di Ternate Didorong Beralih ke Pasar Digital, Baznas Siapkan Pendampingan 3 Bulan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:24 WIT

Nikel dan Baja Dorong Ekspor Malut Tembus US$11,77 Miliar

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:16 WIT

Inflasi Malut 5,72 Persen, Aziz Hasyim Ingatkan Pemda Soal Lonjakan Harga dan Panic Buying

Berita Terbaru

error: Content is protected !!