WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Mahmud Harun, warga Kelurahan Tafamutu, Kecamatan Moti, Kota Ternate, Maluku Utara, meninggal setelah proses rujukan ke rumah sakit di Ternate terkendala kedatangan ambulans laut pada Rabu (5/8/2026) lalu.
Anak kandung almarhum, Yusri Mahmud, mengatakan kondisi ayahnya mulai memburuk dengan kaki yang mengalami pembengkakan dan sulit digunakan untuk berjalan.
Kondisi tersebut, kata Yusri, sudah pernah dialami ayahnya sebanyak tiga kali. Karena itu, keluarga memutuskan membawa almarhum Mahmud ke Puskesmas Moti menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan sekaligus meminta rujukan ke RS Dharma Ibu Ternate.
“Bapak sudah tiga kali mengalami kondisi seperti ini. Kali ini kaki sudah susah berjalan dan bengkak, sehingga memutuskan untuk dijemput dengan fasilitas puskesmas dan minta rujuk ke RS Dharma Ibu Ternate,” kata Yusri saat dikonfirmasi wahanmalut.com, Jumat (28/8/2026).
Setelah mendapat penanganan di Puskesmas Moti, permintaan rujukan keluarga disetujui. Pihak puskesmas kemudian mengarahkan keluarga menggunakan ambulans laut untuk membawa almarhum Mahmud ke Ternate.
Sekitar pukul 08.30 WIT, kapal reguler Lola Jaya sebenarnya dijadwalkan berangkat dari Moti ke Ternate. Namun, keluarga memilih menunggu ambulans laut setelah mendapat informasi bahwa armada tersebut sedang dipersiapkan dan akan menuju Moti.
“Kalau naik kapal biasa, bisa saja. Tetapi sudah diinfokan kalau ambulans laut menuju ke Moti, jadi kami menunggu ambulans laut,” jelas Yusri.
Waktu terus berjalan, tetapi ambulans laut yang ditunggu belum tiba. Keluarga kemudian memperoleh informasi bahwa armada tersebut sedang dalam perjalanan. Namun, setelah melakukan koordinasi sendiri, mereka mendapat informasi berbeda bahwa ambulans masih terkendala pengisian bahan bakar minyak (BBM).
Sekitar pukul 11.00 WIT, kondisi laut di Moti mulai bergelombang. Situasi tersebut membuat keluarga tidak lagi memungkinkan membawa Almarhum Mahmud menggunakan perahu menuju Ternate.
“Sekitar jam 11 laut sudah bergelombang. Kami tidak bisa memaksakan bapak dibawa pakai perahu dalam kondisi seperti itu, apalagi yang ikut ke Ternate bukan hanya saya, ada beberapa keluarga juga, yang sudah berumur. Kondisi bapak juga sudah seperti itu, sehingga kami harus menunggu ambulans laut,” ujarnya.
Sembari menunggu proses evakuasi, Almarhum Mahmud tetap mendapatkan pelayanan medis di Puskesmas Moti. Tenaga kesehatan memasang infus dan memantau kondisi pasien.
Yusri menegaskan, keluarga tidak mempermasalahkan pelayanan medis di Puskesmas Moti. Menurutnya, persoalan utama berada pada proses rujukan dan kedatangan ambulans laut.
“Kalau penanganan di puskesmas, kami tidak persoalkan. Bapak tetap ditangani dan dipantau. Yang menjadi persoalan adalah ambulans laut yang kami tunggu tidak kunjung datang,” tegasnya.
Sekitar pukul 13.00 WIT, kesadaran Almarhum Mahmud mulai menurun. Keluarga tetap bertahan di puskesmas karena kondisi laut tidak memungkinkan untuk menggunakan perahu kecil, sementara ambulans laut belum tiba.
Hingga sore hari, armada tersebut tidak kunjung datang. Almarhum Mahmud akhirnya dinyatakan meninggal di ruang perawatan Puskesmas Moti sekitar pukul 17.15 WIT.
Yusri berharap kejadian yang dialami keluarganya menjadi evaluasi terhadap program ambulans laut, khususnya untuk masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan seperti Moti.
“Sederhananya, kami orang Moti tidak miskin, kami punya uang. Namun itu kan program pemerintah. Kalau memang ada ambulans laut, kami berharap program itu benar-benar bisa digunakan ketika masyarakat membutuhkan,” tandas Yusri. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






