Pangan Ternate Menipis, Akademisi Unkhair Desak Pemkot Intervensi Petani dan Awasi Monopoli Harga-Stok

Senin, 28 September 2026 - 09:35 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Aziz Hasyim saat memberikan tanggapan terkait inflasi Maluku Utara yang mencapai 5,72 persen pada September 2026, Senin (5/10/2026). Dok; Wahana Malut/Ical

Akademisi Universitas Khairun (Unkhair) Aziz Hasyim saat memberikan tanggapan terkait inflasi Maluku Utara yang mencapai 5,72 persen pada September 2026, Senin (5/10/2026). Dok; Wahana Malut/Ical

WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Akademisi Universitas Khairun (Unkhair), Dr. Aziz Hasyim, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate melakukan intervensi dari tingkat produksi petani hingga pasar untuk menghadapi stok pangan yang mulai menipis.

Aziz mengatakan, kondisi tersebut kerap terjadi saat musim kemarau ketika produksi petani mengalami penurunan.

Di sisi lain, daerah yang selama ini menjadi pemasok pangan Ternate, seperti Sulawesi dan Jawa, juga melakukan restocking untuk memenuhi kebutuhan di wilayah masing-masing.

Informasi Wahana Malut

“Langkah pertama yang dilakukan adalah Pemkot mengintervensi kepada petani dalam rangka optimalisasi produksi pangan yang hari ini mengalami penipisan,” kata Aziz, Senin (28/9/2026).

Dorong Produksi Pangan dari Tingkat Rumah Tangga

Menurutnya, upaya mengurangi ketergantungan Ternate terhadap pasokan pangan dari luar daerah sebenarnya telah digagas sejak sekitar 2009 atau 2010. Salah satunya melalui konsep one village one product atau one person one product. Namun, gagasan tersebut hingga kini belum direalisasikan secara optimal.

Aziz menilai konsep one person one product dapat diterapkan dengan mengedukasi masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan, seperti cabai dan tomat.

“Walaupun produksi level kecil, gagasan itu mesti digalakkan,” ujarnya.

Baca Juga:  Hampir Seluruh Rekening Bank di Maluku Utara Dijamin LPS, Capai 99,98 Persen

Selain peningkatan produksi, Pemkot Ternate juga perlu memastikan kondisi stok dan harga pangan di pasar. Menurut Aziz, pengawasan diperlukan untuk mencegah adanya pihak tertentu yang menguasai stok maupun harga.

Pemkot Diminta Awasi Stok dan Harga di Pasar

“Di tengah kelangkaan harus dipastikan tidak ada monopoli harga dan stok yang dikuasai agen tertentu, yang bisa saja melakukan penimbunan sehingga terjadi kelangkaan,” katanya.

Ia juga mendorong Pemkot melakukan operasi pasar untuk mengetahui kondisi stok pangan sekaligus memperkirakan daya tahan pasokan yang tersedia.

Pemerintah daerah, lanjut Aziz, juga perlu memetakan jalur suplai pangan ke Kota Ternate dan memperkuat kerja sama dengan daerah pemasok.

Kerja sama antarpemerintah daerah dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan. Namun, Aziz mengingatkan langkah tersebut hanya bersifat sementara karena daerah pemasok juga memiliki kebutuhan pangan yang harus dipenuhi.

Menurutnya, penguatan produksi lokal harus menjadi bagian dari solusi. Pemerintah perlu memastikan hasil produksi petani terserap pasar dengan harga yang mampu menutup biaya produksi sekaligus memberikan keuntungan.

“Jangan sampai harga petani di bawah tetapi jual ke konsumen harganya naik, karena harga di bawah petani tidak mau memproduksi secara besar-besaran,” katanya.

Baca Juga:  Batas Somasi Berakhir Hari Ini, HK-MAP KSO Terancam Digugat soal Tagihan Rp1,57 Miliar

Aziz mengatakan pemerintah perlu memberikan jaminan agar hasil produksi pertanian lokal memiliki pasar. Sebab, jika sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, terdapat risiko permainan harga yang membuat produk petani lokal tidak terserap atau hanya terjual dengan harga yang tidak cukup menutup biaya produksi.

Karena itu, lanjutnya, diperlukan ruang intervensi pemerintah untuk memastikan produk pertanian lokal tetap memiliki daya saing dengan produk yang didatangkan dari daerah lain.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memberikan perlindungan agar hasil produksi pertanian lokal dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sebelum diserap pembeli dalam skala besar, termasuk perusahaan dan dapur SPPG.

“Tentu langkah proteksi ini dapat dilakukan jika harga jual produk pertanian yang ditawarkan setara atau selisihnya lebih kecil,” ujarnya.

“Karena jika langkah ini tidak dilakukan maka pemenuhan kebutuhan masyarakat akan terganggu di tengah tuntutan kebutuhan yang lebih besar pada perusahaan dan dapur SPPG yang menawarkan harga beli, yang bisa saja lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga beli dari masyarakat,” tandas Aziz. (*)

Penulis : Risaldi

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah
BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar
Somasi Abdullah Bandang Berbalas, Kuasa Hukum Perumda Ake Gaale Ternate Buka Suara
Sambut Hari Santri 2026, IAIN Ternate Gelar Lomba Karya Tulis dan Pidato
Baznas Ternate Turun ke TPA Takome, Siapkan Logistik untuk Petugas Pemadam
IAIN Ternate Usulkan Rusun untuk Dosen dan Pegawai ke Kementerian PKP
35 UMKM di Ternate Didorong Beralih ke Pasar Digital, Baznas Siapkan Pendampingan 3 Bulan
Pemkot Ternate Tetapkan Tanggap Darurat Karhutla, Bara Api TPA Buku Deru-Deru Masih Aktif

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:03 WIT

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:11 WIT

BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:58 WIT

Somasi Abdullah Bandang Berbalas, Kuasa Hukum Perumda Ake Gaale Ternate Buka Suara

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:17 WIT

Sambut Hari Santri 2026, IAIN Ternate Gelar Lomba Karya Tulis dan Pidato

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:08 WIT

Baznas Ternate Turun ke TPA Takome, Siapkan Logistik untuk Petugas Pemadam

Berita Terbaru

error: Content is protected !!