WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Sebanyak 85 persen perempuan yang menjadi responden penelitian di empat desa lingkar kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara terdeteksi memiliki kadar arsenik dalam urin di atas batas aman.
Temuan tersebut merupakan hasil penelitian Komunitas FAJARU Maluku Utara mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan Terdampak Industri Nikel dan PLTU Captive.
Hasil penelitian itu dipaparkan Ketua Komunitas FAJARU Maluku Utara, Hasma Nento, dalam pemaparan hasil riset pada Selasa (29/9/2026).
Penelitian dilakukan terhadap 20 perempuan usia subur yang berasal dari empat desa, yakni Woekob, Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen dan Gemaf.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, sebanyak 17 dari 20 responden atau 85 persen memiliki kadar arsenik urin melebihi nilai rujukan yang digunakan dalam penelitian. Kadar arsenik tertinggi ditemukan pada salah satu responden mencapai 650,34 mikrogram per liter, atau sekitar 19 kali dari batas aman sebesar 35 mikrogram per liter.
Sementara untuk merkuri, sebanyak 15 persen atau tiga dari 20 responden memiliki kadar merkuri dalam darah di atas batas yang digunakan penelitian. Kadar tertinggi tercatat 15 mikrogram per liter.
Sedangkan seluruh sampel untuk timbal (Pb) berada di bawah batas aman yang digunakan dalam penelitian.
Paparan Ditemukan di Empat Desa
Temuan paparan arsenik tidak hanya ditemukan pada desa yang paling dekat dengan kawasan industri.
Di Desa Woekob, tujuh dari delapan responden atau 87,5 persen memiliki kadar arsenik di atas batas. Di Lelilef Sawai, empat dari lima responden atau 80 persen berada di atas batas tersebut.
Sementara di Lelilef Waibulen, seluruh lima responden atau 100 persen terdeteksi memiliki kadar arsenik di atas batas. Di Gemaf, dua responden yang diperiksa juga seluruhnya berada di atas batas.
Dalam presentasinya, FAJARU menyebut paparan arsenik ditemukan di seluruh desa yang menjadi lokasi penelitian. Keempat desa tersebut berada dalam radius sekitar 237 meter hingga 1,5 kilometer dari kawasan industri IWIP.
Woekob menjadi desa dengan jarak terdekat, yakni sekitar 237–500 meter, sementara Lelilef Sawai berjarak sekitar 975 meter, Lelilef Waibulen sekitar 1 kilometer dan Gemaf sekitar 775 meter hingga 1,5 kilometer.
Air Galon Tak Memutus Semua Jalur Paparan
Penelitian FAJARU juga menemukan fakta bahwa seluruh responden menggunakan air galon untuk minum.
Namun, penggunaan air galon dinilai belum memutus seluruh kemungkinan jalur paparan karena arsenik dan merkuri dapat masuk melalui jalur lain yang perlu diteliti, seperti udara, kontak kulit dengan air, serta pangan laut.
“Debu dan asap menjadi salah satu jalur paparan melalui udara. Sementara air sumur atau sungai dapat bersentuhan dengan kulit saat warga mandi dan mencuci,” ungkap Hasma.
Ikan dan pangan laut juga menjadi jalur yang perlu mendapat perhatian karena penelitian menyebut adanya kemungkinan akumulasi arsenik dan merkuri dalam pangan.
Karena itu, FAJARU merekomendasikan pemeriksaan terhadap berbagai jalur paparan, termasuk sumber air yang digunakan masyarakat.
Keluhan Kesehatan Perempuan
Selain pemeriksaan laboratorium, penelitian juga menggali keluhan kesehatan dari 20 responden.
Sebanyak 60 persen responden melaporkan gangguan haid, seperti siklus tidak teratur dan nyeri berlebih. Kemudian 55 persen mengalami gatal pada area kewanitaan dan 45 persen melaporkan keputihan abnormal.
FAJARU mencatat sebagian responden tidak memeriksakan keluhan tersebut karena sejumlah kendala, mulai dari jarak, biaya, rasa malu hingga persoalan administrasi.
Penelitian juga menemukan keluhan kesehatan reproduksi belum memiliki kolom pencatatan khusus dalam sistem puskesmas, sehingga peneliti menilai kondisi tersebut dapat menyebabkan beban kesehatan perempuan belum sepenuhnya tergambarkan dalam data resmi.
Beban Perempuan Bertambah
Dalam diskusi kelompok terarah yang dilakukan FAJARU, warga dari wilayah penelitian menyampaikan sejumlah perubahan lingkungan yang mereka rasakan.
Di antaranya air sungai yang disebut keruh dan berbau, debu yang menutupi rumah, kebun dan jalan, serta penurunan hasil tangkapan ikan.
Kondisi tersebut turut menambah beban perempuan karena harus mencari air bersih lebih jauh, membersihkan debu berulang kali, serta merawat anggota keluarga yang sakit.
FAJARU juga mencatat perempuan menjadi kelompok yang banyak mengalami paparan, tetapi masih memiliki keterlibatan terbatas dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan dan kesehatan.
Riset Masih Menjadi Sinyal Peringatan Dini
FAJARU menyebut jumlah sampel tersebut sebagai sinyal peringatan dini dan mengakui penelitian belum mencakup pengukuran lingkungan secara serentak.
Karena itu, FAJARU merekomendasikan pemantauan lebih luas terhadap udara, air, tanah, pangan dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri.
“Pemerintah harus menyediakan air bersih untuk kebutuhan mandi dan mencuci, memperbaiki pencatatan keluhan kesehatan reproduksi di fasilitas kesehatan, serta melakukan pemantauan kesehatan masyarakat secara berkala,” tandasnya. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






