WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Temuan kadar arsenik dalam urin pada 85 persen perempuan yang menjadi responden penelitian di empat desa lingkar kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, mendapat perhatian dari salah satu Dokter Umum di Kota Ternate.
dr. Muhammad Sagaf yang juga selaku Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Ternate, mengatakan arsenik merupakan salah satu unsur kimia beracun yang dapat membahayakan tubuh manusia.
Namun, menurutnya, risiko pencemaran lingkungan tidak hanya berasal dari arsenik, tetapi juga dapat melibatkan logam berat lain seperti merkuri, timbal dan kadmium.
“Dampak dari pencemaran limbah tambang bukan hanya arsenik saja akan tetapi bisa juga dari merkuri, timbal, dan kadmium. Kita ketahui juga bahwa ke empat jenis unsur kimia beracun atau logam berat yang sering mencemari lingkungan dan berbahaya bagi tubuh manusia, namun memiliki sifat fisik, sumber paparan, serta dampak kesehatan utama yang berbeda-beda,” kata dr. Muhammad Sagaf kepada wahanamalut.com, Selasa (6/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Komunitas FAJARU Maluku Utara memaparkan hasil penelitian mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan Terdampak Industri Nikel dan PLTU Captive pada Selasa (29/9/2026).
Penelitian dilakukan terhadap 20 perempuan usia subur dari empat desa, yakni Woekob, Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen dan Gemaf.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan 17 dari 20 responden atau 85 persen memiliki kadar arsenik dalam urin melebihi nilai rujukan yang digunakan dalam penelitian.
Kadar tertinggi tercatat mencapai 650,34 mikrogram per liter atau sekitar 19 kali dari batas aman 35 mikrogram per liter.
Sementara untuk merkuri, tiga dari 20 responden atau 15 persen memiliki kadar dalam darah di atas batas yang digunakan dalam penelitian. Kadar tertinggi tercatat 15 mikrogram per liter.
Sedangkan seluruh sampel untuk timbal (Pb) berada di bawah batas aman yang digunakan dalam penelitian.
Paparan Ditemukan di Empat Desa
Temuan kadar arsenik di atas nilai rujukan ditemukan pada responden di seluruh desa lokasi penelitian.
Di Woekob, tujuh dari delapan responden atau 87,5 persen berada di atas batas. Di Lelilef Sawai, empat dari lima responden atau 80 persen.
Sementara di Lelilef Waibulen, seluruh lima responden atau 100 persen berada di atas batas. Di Gemaf, dua responden yang diperiksa juga seluruhnya berada di atas batas.
Keempat desa tersebut berada dalam radius sekitar 237 meter hingga 1,5 kilometer dari kawasan industri IWIP.
Woekob menjadi desa dengan jarak terdekat, yakni sekitar 237–500 meter. Lelilef Sawai berjarak sekitar 975 meter, Lelilef Waibulen sekitar 1 kilometer, sedangkan Gemaf sekitar 775 meter hingga 1,5 kilometer.
FAJARU menyebut temuan tersebut sebagai sinyal peringatan dini. Namun, penelitian belum mencakup pengukuran lingkungan secara serentak sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui sumber dan jalur paparan secara lebih komprehensif.
Muhammad Sagaf Soroti Dampak yang Tak Selalu Terlihat
dr. Muhammad Sagaf menjelaskan arsenik merupakan unsur semilogam yang dapat ditemukan dalam berbagai sumber paparan, termasuk air tanah yang terkontaminasi, pestisida, limbah industri dan beberapa jenis makanan laut.
Ia menjelaskan, arsenik anorganik memiliki tingkat toksisitas yang tinggi dan dapat memberikan dampak kesehatan dalam jangka panjang.
“Dampak Utama dari arsenik yaitu kerusakan kulit (hiperpigmentasi/keratosis), gangguan pembuluh darah (penyakit blackfoot), serta memicu kanker (kulit, paru-paru, kandung kemih), dari aktivitas pertambangan juga dapat mengancam kesehatan warga melalui air, pangan, debu, dan udara,” ujarnya.
Ia menyebut dampak paparan juga dapat berkaitan dengan risiko kanker, kerusakan saraf dan ginjal, penyakit metabolik serta gangguan tumbuh kembang anak.
“Yang dimana dampaknya sendiri dapat mempengaruhi orang dengan risiko kanker, kerusakan saraf dan ginjal, penyakit metabolik serta gangguan tumbuh kembang anak, dan sebagian besar bersifat kronis serta tidak segera terlihat,” kata Sagaf.
Air Galon Belum Menutup Semua Jalur Paparan
Penelitian FAJARU mencatat seluruh responden menggunakan air galon untuk kebutuhan minum.
Namun, kondisi tersebut belum serta-merta menutup kemungkinan paparan dari jalur lain. Peneliti menyebut debu, udara, kontak dengan air serta konsumsi pangan laut sebagai jalur yang masih perlu diperiksa lebih lanjut.
“Karena itu, pencegahan melalui pemantauan lingkungan, pengendalian limbah, penyediaan air aman, dan penghapusan merkuri jauh lebih efektif daripada pengobatan,” ujar Sagaf.
FAJARU juga merekomendasikan pemeriksaan terhadap berbagai kemungkinan jalur paparan, termasuk sumber air yang digunakan masyarakat.
Dokter Dorong Data Air, Ikan dan Biomarker Warga
dr. Muhammad Sagaf menilai diperlukan penelitian lanjutan berbasis data ilmiah dan data lokal untuk mengetahui tingkat risiko di masing-masing wilayah yang terdampak aktivitas pertambangan.
“Mungkin juga perlu ada beberapa data penelitian lanjutan yang berbasis data ilmiah dan data lokal, seperti kadar logam dalam air, ikan, dan biomarker warga, diperlukan untuk menilai risiko di tiap wilayah yang terdampak tambang dengan risiko kondisi penyakit kronis,” tandasnya.
Selain pemeriksaan lingkungan, FAJARU menemukan sejumlah keluhan kesehatan reproduksi pada responden. Sebanyak 60 persen melaporkan gangguan haid, 55 persen mengalami gatal pada area kewanitaan dan 45 persen melaporkan keputihan abnormal.
FAJARU mencatat sebagian responden tidak memeriksakan keluhan tersebut karena kendala jarak, biaya, rasa malu hingga persoalan administrasi.
Penelitian juga merekomendasikan pemantauan berkala terhadap udara, air, tanah, pangan dan kesehatan masyarakat di sekitar kawasan industri.
Temuan tersebut menjadi dasar perlunya penelitian yang lebih luas. Sebab, hasil pemeriksaan kadar logam dalam tubuh pada kelompok responden belum dengan sendirinya membuktikan sumber paparan maupun hubungan sebab-akibat dengan aktivitas industri, sehingga diperlukan pemeriksaan lingkungan dan biomarker yang lebih komprehensif. (*)
Penulis : Risaldi
Sumber Berita: Wahana Malut






