WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Garuda Indonesia Cabang Ternate terus mematangkan strategi pasar guna mendorong kinerja positif hingga akhir 2026.
General Manager Garuda Indonesia Cabang Ternate, Achmad Allam Rafli, mengungkapkan optimisme tersebut seiring dengan tren peningkatan keterisian penumpang serta berbagai langkah taktis dalam menjaga daya saing harga tiket.
Berdasarkan data internal Garuda Indonesia Cabang Ternate, tingkat keterisian penumpang pada periode Januari hingga Juni 2026 berada di kisaran 82 persen.
Tren positif tersebut disebut terus berlanjut memasuki paruh kedua tahun ini. Pada Juli dan Agustus 2026, tingkat keterisian penumpang tercatat mengalami peningkatan hingga berada di kisaran 85–90 persen.
“Untuk Juli dan Agustus ini kita melihat terdapat kenaikan, berkisar mungkin di antara 85 sampai 90 persen,” ujar Achmad Allam Rafli.
Menurut Rafli, peningkatan minat masyarakat menggunakan transportasi udara menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan load factor Garuda Indonesia Cabang Ternate.
Selain tren penumpang, penurunan harga bahan bakar pesawat atau avtur juga dinilai memberikan stimulus terhadap pasar penerbangan.
Menghadapi tantangan pasar, kata Allam, Garuda Indonesia tetap berkomitmen menyajikan harga tiket yang kompetitif guna menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Salah satu strategi yang diandalkan adalah menghadirkan berbagai program promo khusus.
Sebelumnya, Garuda Indonesia menggelar promo “Merdeka” untuk periode pembelian 11–17 Agustus 2026. Promo tersebut menawarkan tarif penerbangan yang lebih kompetitif, termasuk untuk rute Ternate-Jakarta.
“Rute dari Ternate ke Jakarta itu kami tawarkan mulai dari Rp2,6 juta, sedangkan dari Jakarta ke Ternate mulai dari Rp2,7 juta. Ini merupakan bagian dari strategi kami untuk merangkul market yang lebih luas lagi,” jelas Rafli.
Menatap sisa tahun 2026, Garuda Indonesia Cabang Ternate memasang target kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Kendati demikian, industri penerbangan masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya ketidakpastian geopolitik global yang turut memberikan dampak terhadap bisnis maskapai penerbangan.
“Tahun ini memang terdapat kendala berupa konflik global di dunia yang turut memberikan dampak pada bisnis maskapai penerbangan (airlines),” tambah Rafli.
Allam berharap ketegangan global dapat segera mereda dan harga avtur terus melandai. Memasuki akhir kuartal III dan kuartal IV 2026, Garuda Indonesia menargetkan tingkat keterisian penumpang kembali menembus angka di atas 90 persen dengan tetap mempertahankan profitabilitas perusahaan.
Di sisi lain, Garuda Indonesia juga mengantisipasi potensi kenaikan harga tiket menjelang periode liburan akhir tahun, termasuk Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Garuda Indonesia menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah apabila kembali terdapat kebijakan subsidi tiket untuk periode Nataru seperti yang pernah diterapkan sebelumnya.
“Untuk tahun ini kami masih menunggu. Jika memang nantinya ada kebijakan subsidi lagi dari pemerintah, kami tentu akan siap mengikuti dan mendukung program tersebut, khususnya untuk mensubsidi tiket pada periode Nataru,” pungkas Rafli. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






