WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Pembatalan sejumlah penerbangan akibat kabut asap dalam beberapa hari terakhir mengalihkan sebagian mobilitas penumpang ke jalur laut.
Pelabuhan Ahmad Yani, Kota Ternate, Maluku Utara, menjadi salah satu titik yang lebih ramai karena penumpang mencari alternatif perjalanan menggunakan kapal.
Di tengah perubahan arus penumpang tersebut, Bambang Dahlan (46) tetap sibuk menjalani pekerjaannya sebagai porter atau buruh angkut.
Bagi Bambang, ramainya pelabuhan membuka peluang memperoleh penghasilan lebih besar. Namun, kesempatan itu tidak selalu berbanding lurus dengan pendapatan yang dibawa pulang.
Sebagai pekerja di bawah naungan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), Bambang tidak hanya mengandalkan jasa angkut barang milik penumpang. Ketika tidak ada kapal penumpang, ia bersama rekan-rekannya beralih mengerjakan bongkar muat barang dari kapal kargo atau kontainer.
Beralih Pekerjaan demi Penghasilan
Pekerjaan tersebut membuat Bambang harus mengikuti jadwal kedatangan kapal yang tidak menentu. Ia bisa mulai bekerja sejak subuh, siang, hingga malam hari.
Saat menangani bongkar muat kapal kargo atau kontainer, Bambang rata-rata memperoleh Rp200.000 hingga Rp300.000 sehari. Sementara itu, ketika melayani penumpang kapal, penghasilannya bisa mencapai Rp300.000 hingga Rp400.000 setiap kapal.
Dalam kondisi tertentu, pendapatan itu bahkan dapat menembus Rp500.000 hingga jutaan rupiah, bergantung pada jumlah penumpang yang menggunakan jasanya.
“Kalau tidak ada kapal penumpang, kami kerja bongkar muat barang. Kalau kapal penumpang masuk, kami beralih melayani penumpang,” ujar Bambang saat ditemui wahanamalut.com, Selasa (20/10/2026).
Peralihan pekerjaan itu menjadi pilihan yang penuh ketidakpastian. Meski kapal penumpang membawa peluang pendapatan lebih besar, hasilnya tidak selalu melebihi penghasilan dari pekerjaan bongkar muat.
Ketika pelabuhan ramai, Bambang berpeluang membawa pulang uang lebih banyak. Sebaliknya, saat aktivitas pelabuhan sepi, ia pernah pulang tanpa membawa penghasilan.
“Kalau pelabuhan sepi, pernah juga tidak membawa uang pulang,” katanya.
Di Balik Ramainya Pelabuhan, Ada Keluarga yang Harus Dihidupi
Bagi Bambang, pekerjaan di pelabuhan bukan sekadar mengangkut barang dari satu tempat ke tempat lain. Penghasilan dari pekerjaan itu menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
“Pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Jadi, kami harus tetap bekerja mengikuti kapal yang masuk,” tuturnya.
Meningkatnya jumlah penumpang setelah pembatalan penerbangan memberi peluang tambahan bagi para porter. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin pendapatan yang stabil. Penghasilan mereka tetap bergantung pada jadwal kapal, jumlah penumpang, dan banyaknya orang yang membutuhkan jasa angkut.
Di tengah situasi itu, Bambang harus siap bekerja kapan pun kapal bersandar. Waktu istirahat dan jam kerja mengikuti aktivitas pelabuhan yang dapat berubah dari hari ke hari.

Selain penghasilan, Bambang juga menaruh perhatian pada ketertiban aktivitas di Pelabuhan Ahmad Yani. Ia menilai penataan pelabuhan saat ini sudah berjalan baik dan berharap koordinasi antara Pelindo, TKBM, serta perangkat pelabuhan dapat terus dipertahankan.
“Harapannya, penataan dan koordinasi di pelabuhan terus dipertahankan supaya penumpang yang datang maupun berangkat merasa aman dan aktivitas berjalan tertib,” ujarnya.
Bagi Bambang, setiap kapal yang bersandar membawa kemungkinan memperoleh penghasilan untuk keluarganya. Namun, di balik ramainya pelabuhan dan meningkatnya arus penumpang, perjuangannya tetap sama: bekerja mengikuti kapal dan berharap ada hasil yang bisa dibawa pulang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. (*)
Penulis : Risaldi
Sumber Berita: Wahana Malut






