WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Hampir dua bulan sudah bak penampungan air di rumah Maria kosong.
Tak ada lagi air hujan yang bisa ditampung setelah hujan berhenti turun dalam beberapa waktu terakhir.
Maria, warga Kecamatan Pulau Hiri, Kota Ternate, Maluku Utara, kini harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan air keluarganya.
Air dari jaringan PDAM yang baru masuk sekitar sebulan terakhir digunakan untuk mandi dan mencuci. Sementara untuk minum, ia harus membeli air galon.
“Sudah tiga bulan air susah. Air hujan juga sudah tidak ada. Bak kosong sudah hampir dua bulan,” kata Maria, Kamis (17/9/2026).
Setiap dua hari, sekitar Rp10 ribu harus disiapkan Maria untuk membeli air minum.
Namun, persoalan yang dihadapi Maria tak berhenti pada air. Kemarau juga membuat kebun yang selama ini membantu memenuhi kebutuhan dapur ikut mengering.
Cabai, mentimun hingga jantung pisang yang biasanya bisa diperoleh dari kebun kini sulit didapat.
Warga tak lagi leluasa menanam karena kondisi tanah yang kering.
“Kebun sudah tidak ada, keadaan begini, tidak bisa menanam,” ujarnya.
Bagi Maria, kebun yang mengering berarti ada kebutuhan lain yang kini harus dibeli. Begitu pula ketika persediaan air habis.
“Yang paling dikhawatirkan air. Kalau tidak ada, harus beli,” tandasnya. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






