BI Salurkan Bantuan ke Kelompok Tani dan Nelayan di Maluku Utara

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila (kanan), bersama Sekda Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir (kiri), dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan wilayah Sulampua 2026 di Makassar pada Jumat (23/10/2026). (Dok: BI Malut)

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila (kanan), bersama Sekda Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir (kiri), dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi dan penguatan ketahanan pangan wilayah Sulampua 2026 di Makassar pada Jumat (23/10/2026). (Dok: BI Malut)

WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Bank Indonesia (BI) memperkuat upaya pengendalian inflasi dan ketahanan pangan di Maluku Utara melalui dukungan sarana produksi pertanian dan perikanan, kerja sama antardaerah, serta pengembangan ekosistem pangan.

Hingga Oktober 2026, dukungan sarana dan prasarana berupa bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta alat tangkap telah disalurkan kepada sembilan kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan) dan empat kelompok nelayan di Maluku Utara.

Program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) 2026 yang mengusung konsep Tallukarsa Pangan Sulampua atau tiga daya upaya untuk memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga.

Informasi Wahana Malut

Dalam siaran pers Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara pada 23 Oktober 2026, dijelaskan konsep Tallukarsa Pangan Sulampua mencakup tiga strategi, yakni Karsa Daya, Karsa Sambung, dan Karsa Tata.

Ketiganya diarahkan untuk memperkuat produksi pangan, memperlancar distribusi antardaerah, serta membangun kelembagaan dan ekosistem pangan yang lebih terintegrasi.

Perkuat Produksi Pertanian dan Perikanan

Melalui program Karsa Daya, BI berupaya meningkatkan kapasitas sektor pertanian dan perikanan dengan menyediakan sarana produktif serta memfasilitasi akses pembiayaan perbankan.

Di Maluku Utara, upaya tersebut diwujudkan melalui Sekolah Lapang budi daya bawang merah di Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Selatan. BI juga memperkuat akses pembiayaan melalui kegiatan business matching Kredit Usaha Rakyat (KUR) bersama perbankan.

Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas petani dan nelayan, memperkuat hasil produksi daerah, serta menjaga ketersediaan pasokan pangan.

Baca Juga:  BI Maluku Utara Bekali Jurnalis Pemanfaatan AI Sekaligus Promosikan Wisata Pulau Meti

Hubungkan Pasokan Pangan Antardaerah

Strategi kedua, Karsa Sambung, difokuskan pada penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk komoditas pangan penyumbang inflasi. Langkah ini bertujuan memperpendek rantai pasok dan memperlancar distribusi pangan hingga ke pasar.

Di Maluku Utara, inisiatif tersebut diwujudkan melalui kerja sama komoditas bawang merah antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Ternate dan Kota Probolinggo.

Selain itu, terdapat kerja sama business to business antara offtaker di Kabupaten Halmahera Utara dan pelaku utama komoditas cabai rawit di Kabupaten Malang. Distribusi komoditas tersebut didukung Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui pemanfaatan pesawat milik TNI Angkatan Udara.

Kerja sama ini menjadi salah satu upaya mengatasi tantangan distribusi pangan di wilayah kepulauan, terutama karena sentra produksi dan daerah konsumsi berada di lokasi berbeda.

Rindang Berseri Tambah Pasokan Kangkung di Ternate

Sementara itu, Karsa Tata berfokus pada penguatan kelembagaan dan ekosistem pangan. Implementasinya di Maluku Utara dilakukan melalui business matching kelompok tani dengan Koperasi Desa Merah Putih dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sebagai offtaker atau penyerap hasil produksi.

BI bersama Bapanas juga memperkuat pengembangan neraca pangan sebagai sistem peringatan dini terhadap potensi defisit pangan. Informasi tersebut dapat menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan stabilisasi pasokan dan harga.

Di tingkat daerah, program unggulan TPID Maluku Utara turut diwujudkan melalui gerakan urban farming bertajuk “Rindang Berseri”. Program ini memanfaatkan lahan tidur milik pemerintah melalui kerja sama dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

Baca Juga:  IAIN Ternate Jajaki Kerja Sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Di Kota Ternate, program tersebut melibatkan TP-PKK, pondok pesantren, dan rumah tangga untuk mendukung produksi pangan di lingkungan masyarakat.

Berdasarkan data BI Maluku Utara, pelaksanaan Rindang Berseri di Kota Ternate menambah pasokan kangkung sekitar 2,7 hingga 4,5 ton per bulan. Sementara itu, komoditas cabai rawit masih dalam tahap perawatan dengan potensi panen mencapai 1,35 hingga 2,7 ton per bulan.

Pengendalian Inflasi Tidak Hanya Bergantung pada Harga

BI menjelaskan, pengendalian inflasi pangan perlu dilakukan secara terintegrasi. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada stabilisasi harga dalam jangka pendek, tetapi juga mencakup penguatan produksi, kelancaran distribusi, dan efisiensi rantai pasok.

Hal ini penting bagi wilayah Sulampua yang memiliki karakteristik kepulauan, dengan sentra produksi dan wilayah konsumsi yang tersebar serta menghadapi tantangan distribusi dan risiko perubahan iklim, termasuk El Nino.

GPIPS Sulampua 2026 digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut dibuka oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia Thomas A.M. Djiwandono bersama Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi, serta dihadiri kepala daerah se-Sulampua.

Melalui konsep Tallukarsa Pangan Sulampua, BI bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan mendorong penguatan ketahanan pangan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah
BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar
35 UMKM di Ternate Didorong Beralih ke Pasar Digital, Baznas Siapkan Pendampingan 3 Bulan
Nikel dan Baja Dorong Ekspor Malut Tembus US$11,77 Miliar
Inflasi Malut 5,72 Persen, Aziz Hasyim Ingatkan Pemda Soal Lonjakan Harga dan Panic Buying
Pangan Ternate Menipis, Akademisi Unkhair Desak Pemkot Intervensi Petani dan Awasi Monopoli Harga-Stok
Harga Cabai Naik Lagi di Ternate, Pedagang: Stok Mulai Menipis
Harga Rempah di Ternate 1 September 2026: Fuli Naik Jadi Rp300 Ribu, Cengkih dan Pala Stabil

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WIT

BI Salurkan Bantuan ke Kelompok Tani dan Nelayan di Maluku Utara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:03 WIT

Berapa Rata-Rata Produksi Sapi di Maluku Utara? Ini Data BPS per Daerah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:11 WIT

BI Bawa Produk UMKM Maluku Utara ke ISEF 2026, Popeda Instan Masuk 10 Besar

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:29 WIT

35 UMKM di Ternate Didorong Beralih ke Pasar Digital, Baznas Siapkan Pendampingan 3 Bulan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:24 WIT

Nikel dan Baja Dorong Ekspor Malut Tembus US$11,77 Miliar

Berita Terbaru

error: Content is protected !!