WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Tiga Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU), menggelar refleksi Hari Sumpah Pemuda 2026 bertajuk “Pemuda yang Hilang, Matinya Gerakan Kaum Muda”.
Kegiatan yang berlangsung di Kampus B FISIP UMMU, Ternate, Rabu (28/10/2026), ini digagas HMPS Ilmu Sosiologi, HMPS Ilmu Komunikasi, dan HMPS Ilmu Psikologi.
Refleksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi kondisi gerakan kepemudaan sekaligus menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sosial, politik, hukum, dan ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan dikemas melalui sejumlah penampilan seni dan aktivitas intelektual, mulai dari pembacaan puisi, pertunjukan musik langsung, hingga orasi. Berbagai penampilan itu menjadi medium bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan dan pandangan mengenai kondisi masyarakat serta arah gerakan kaum muda saat ini.
Sejumlah unsur pimpinan kampus dan pemerintah turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Rektor I UMMU Abdurrahman, Dekan FISIP Amrul Djana, serta Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Maluku Utara, Sutopo Abdullah. Hadir pula pimpinan program studi di lingkungan FISIP dan alumni program studi penyelenggara.
Kampus Diminta Buka Ruang bagi Gerakan Mahasiswa
Inisiator kegiatan, Yahya Alhadad, menyoroti pentingnya menghidupkan kembali peran mahasiswa sebagai kekuatan intelektual yang mampu mendorong perubahan sosial dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Menurut Yahya, kampus semestinya tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi juga ruang terbuka bagi pertumbuhan pemikiran kritis dan gerakan mahasiswa.
“Kampus harus menjadi ruang yang terbuka bagi tumbuhnya pemikiran kritis dan gerakan mahasiswa,” ujar Yahya.
Ia juga mendorong dosen muda untuk membangun kolaborasi dengan mahasiswa. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat lingkungan akademik sebagai tempat lahirnya gagasan dan aksi nyata untuk menjawab persoalan bangsa.
Yahya menilai, karya dan keberanian mahasiswa dalam menyampaikan kritik perlu mendapat apresiasi dan dukungan dari lingkungan kampus.
“Mahasiswa yang menulis, berkarya, dan menyuarakan persoalan publik perlu mendapatkan dukungan dari lingkungan kampus agar semangat intelektual dan gerakan perubahan tetap tumbuh,” ucapnya.
Sumpah Pemuda Jangan Berhenti pada Seremoni
Dekan FISIP UMMU, Amrul Djana, mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang menggelar refleksi Sumpah Pemuda. Ia menilai tema yang diangkat relevan untuk menjadi bahan perenungan mengenai keberadaan dan peran pemuda dalam kehidupan sosial saat ini.
Menurut Amrul, peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial setiap 28 Oktober. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengevaluasi sejauh mana pemuda menjalankan perannya sebagai kekuatan perubahan.
“Momentum 28 Oktober harus dimanfaatkan untuk mempertanyakan kembali sejauh mana pemuda menjalankan perannya sebagai kekuatan perubahan, khususnya dalam lingkungan akademik dan kehidupan bermasyarakat,” kata Amrul.
Ia berharap FISIP UMMU terus memberikan ruang bagi kebebasan mimbar akademik yang bertanggung jawab. Dengan begitu, mahasiswa dapat mengembangkan pemikiran kritis, menyampaikan pendapat, dan berpartisipasi aktif dalam membangun kehidupan kampus yang demokratis.
Dispora Ternate Dorong Dialog Mahasiswa dan Pemerintah
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Ternate, Sutopo Abdullah, yang hadir sekaligus membuka kegiatan, menekankan pentingnya gerakan mahasiswa dalam mengawal perubahan.
Ia mengajak mahasiswa menjadikan dinamika gerakan pemuda di tingkat global sebagai bahan pembelajaran untuk memperkuat kesadaran kritis dan partisipasi publik.
Sutopo juga berharap kegiatan refleksi serupa dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang dengan melibatkan lebih banyak pihak, termasuk pemerintah daerah.
Menurutnya, pemerintah perlu membuka ruang dialog agar dapat mendengar secara langsung pandangan, kritik, dan aspirasi mahasiswa mengenai kondisi serta persoalan yang dihadapi daerah.
“Pemerintah perlu membuka ruang untuk mendengar langsung pandangan, kritik, dan aspirasi mahasiswa mengenai kondisi serta persoalan yang dihadapi daerah,” ujarnya.
Ia menilai suara mahasiswa dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam memahami realitas sosial dan merumuskan arah pembangunan Maluku Utara.
“Karena itu, kalau perlu dialog antara mahasiswa dan pemerintah perlu diperkuat agar gagasan kritis yang lahir dari lingkungan kampus dapat menjadi masukan bagi kemajuan Maluku Utara,” ucap Sutopo.
Melalui kegiatan ini, Yahya berharap HMPS Ilmu Sosiologi, HMPS Ilmu Komunikasi, dan HMPS Ilmu Psikologi FISIP UMMU dapat mendorong mahasiswa kembali mengambil peran strategis dalam mengawal persoalan publik.
“Peringatan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa semangat persatuan, keberanian bersuara, dan komitmen terhadap perubahan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar diperingati setiap tahun,” pungkas Yahya. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






