Bukan Kabut Biasa, BMKG Jelaskan Fenomena Udara Kabur di Wilayah Malut

Rabu, 23 September 2026 - 15:44 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langit Kota Ternate tampak berkabut dengan latar Gunung Tidore, Rabu (23/9/2026). Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena haze yang menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah Maluku Utara menurun. (Dok: Wahana Malut/Ical)

Langit Kota Ternate tampak berkabut dengan latar Gunung Tidore, Rabu (23/9/2026). Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena haze yang menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah Maluku Utara menurun. (Dok: Wahana Malut/Ical)

WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Sejumlah wilayah di Maluku Utara, termasuk Kota Tidore Kepulauan dan beberapa wilayah Halmahera, terlihat diselimuti kabut putih sejak Senin (21/9/2026).

Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang menurun dan membuat pemandangan di sejumlah wilayah tampak berkabut.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut bukan semata-mata kabut, melainkan fenomena atmosfer yang disebut haze atau udara kabur.

Informasi Wahana Malut

Prakirawan BMKG Kelas II Sultan Babullah Ternate, Dewi, mengatakan fenomena tersebut telah teramati sejak sehari sebelumnya.

Penurunan jarak pandang tidak hanya terjadi di wilayah Tidore, tetapi juga terlihat hingga Halmahera berdasarkan pengamatan dari Ternate.

“Kalau dari pengamatan kami, fenomena ini sudah terjadi sejak kemarin. Jarak pandang menurun, bukan hanya di wilayah Tidore, tetapi juga sampai ke Halmahera, jika dilihat dari Ternate,” kata Dewi.

Menurut Dewi, haze berbeda dengan kabut pada umumnya. Kabut biasanya terbentuk ketika kelembapan udara tinggi, sementara kondisi yang terjadi saat ini disertai kelembapan yang rendah.

Baca Juga:  Menuju UIN Sultan Baabullah: IAIN Ternate Siapkan RPL dan PSDKU, Dokumen Usulan Sudah Diteken

Ia menjelaskan, fenomena haze dapat terjadi akibat lapisan inversi di atmosfer bagian atas. Kondisi tersebut menyebabkan penguapan dari laut tertahan di dekat permukaan.

Akibatnya, partikel-partikel di udara tidak bergerak naik dan tetap berada di lapisan bawah atmosfer sehingga jarak pandang menjadi kurang baik.

“Makanya partikel-partikel udara itu bukannya melayang ke udara menjadi awan, tetapi tertahan di permukaan. Sehingga jarak pandang menjadi kurang baik,” jelasnya.

Belum Bisa Dipastikan Akibat Karhutla

Dewi mengatakan kemungkinan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menyumbang partikel di udara tetap ada.

Namun, BMKG belum dapat memastikan bahwa penurunan jarak pandang di Maluku Utara saat ini disebabkan oleh karhutla.

Menurutnya, kondisi udara kabur terlihat cukup merata di sejumlah wilayah. Sementara itu, karhutla di Tidore tidak terjadi dalam skala besar.

“Untuk dampaknya karena karhutla sendiri itu belum bisa kami bilang kalau itu gara-gara karhutla sendiri. Untuk sementara memang bisa kami jelaskan, jarak pandang jelek ini terjadi karena adanya fenomena atmosfer yang kami sebut haze,” ujarnya.

Baca Juga:  Ban Bekas Terbakar, KATAM Malut: Polisi Jangan Cuma Cari Pelaku, Usut Tanggung Jawab PT IWIP!

Bukan Asap dari Kalimantan

Terkait dugaan asap kebakaran hutan di Kalimantan terbawa angin hingga Maluku Utara, Dewi mengatakan peluangnya relatif kecil.

Menurutnya, kemungkinan asap terbawa hingga Maluku Utara sangat bergantung pada arah angin dan jarak antarwilayah.

“Kalau dari Kalimantan sampai ke Malut, kemungkinan kecil tidak akan sampai ke Malut, karena tergantung arah anginnya juga,” kata Dewi.

Ia menambahkan, jarak Kalimantan menuju Maluku Utara cukup jauh dan terdapat wilayah Sulawesi di antara kedua kawasan tersebut.

Karena itu, berdasarkan pengamatan sementara, kemungkinan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan mencapai Maluku Utara dinilai relatif kecil.

BMKG saat ini menjelaskan kondisi jarak pandang yang menurun di sejumlah wilayah Maluku Utara lebih berkaitan dengan fenomena atmosfer haze, meski kontribusi partikel dari sumber lain masih menjadi kemungkinan yang perlu dipantau. (*)

Sumber Berita: Wahana Malut

Berita Terkait

Front Fagawene Lelilef Tagih Tanggung Jawab IWIP soal Debu, Air Bersih dan Atap Seng
PLTN Terapung 200 MW Mau Dibangun di Halmahera, WALHI Malut Pertanyakan Risiko Nuklir
WALHI Malut Desak Audit Harita Usai Temukan Logam Berat di Air Kawasi
Kenapa Ternate Diselimuti Kabut Asap? Ini Penjelasan BMKG
KATAM Malut Desak Prabowo Audit Lingkungan PT IWIP Usai Peresmian Investasi Rp180 Triliun
PT HSM Diduga Gusur 800 Hektare Lahan Warga Kulo Jaya Halteng, Pelta Malut Soroti Hak yang Belum Tuntas
Perempuan di Lingkar PT IWIP Terpapar Arsenik, Dokter Soroti Risiko Kanker
Kebakaran TPA Takome Meluas, WALHI Malut Desak Pemerintah Lindungi Warga

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:48 WIT

Front Fagawene Lelilef Tagih Tanggung Jawab IWIP soal Debu, Air Bersih dan Atap Seng

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:10 WIT

PLTN Terapung 200 MW Mau Dibangun di Halmahera, WALHI Malut Pertanyakan Risiko Nuklir

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:49 WIT

WALHI Malut Desak Audit Harita Usai Temukan Logam Berat di Air Kawasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:19 WIT

Kenapa Ternate Diselimuti Kabut Asap? Ini Penjelasan BMKG

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 16:01 WIT

KATAM Malut Desak Prabowo Audit Lingkungan PT IWIP Usai Peresmian Investasi Rp180 Triliun

Berita Terbaru

error: Content is protected !!