WAHANAMALUT.COM, TERNATE – Sejumlah wilayah di Maluku Utara, termasuk Kota Tidore Kepulauan dan beberapa wilayah Halmahera, terlihat diselimuti kabut putih sejak Senin (21/9/2026).
Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang menurun dan membuat pemandangan di sejumlah wilayah tampak berkabut.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut bukan semata-mata kabut, melainkan fenomena atmosfer yang disebut haze atau udara kabur.
Prakirawan BMKG Kelas II Sultan Babullah Ternate, Dewi, mengatakan fenomena tersebut telah teramati sejak sehari sebelumnya.
Penurunan jarak pandang tidak hanya terjadi di wilayah Tidore, tetapi juga terlihat hingga Halmahera berdasarkan pengamatan dari Ternate.
“Kalau dari pengamatan kami, fenomena ini sudah terjadi sejak kemarin. Jarak pandang menurun, bukan hanya di wilayah Tidore, tetapi juga sampai ke Halmahera, jika dilihat dari Ternate,” kata Dewi.
Menurut Dewi, haze berbeda dengan kabut pada umumnya. Kabut biasanya terbentuk ketika kelembapan udara tinggi, sementara kondisi yang terjadi saat ini disertai kelembapan yang rendah.
Ia menjelaskan, fenomena haze dapat terjadi akibat lapisan inversi di atmosfer bagian atas. Kondisi tersebut menyebabkan penguapan dari laut tertahan di dekat permukaan.
Akibatnya, partikel-partikel di udara tidak bergerak naik dan tetap berada di lapisan bawah atmosfer sehingga jarak pandang menjadi kurang baik.
“Makanya partikel-partikel udara itu bukannya melayang ke udara menjadi awan, tetapi tertahan di permukaan. Sehingga jarak pandang menjadi kurang baik,” jelasnya.
Belum Bisa Dipastikan Akibat Karhutla
Dewi mengatakan kemungkinan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menyumbang partikel di udara tetap ada.
Namun, BMKG belum dapat memastikan bahwa penurunan jarak pandang di Maluku Utara saat ini disebabkan oleh karhutla.
Menurutnya, kondisi udara kabur terlihat cukup merata di sejumlah wilayah. Sementara itu, karhutla di Tidore tidak terjadi dalam skala besar.
“Untuk dampaknya karena karhutla sendiri itu belum bisa kami bilang kalau itu gara-gara karhutla sendiri. Untuk sementara memang bisa kami jelaskan, jarak pandang jelek ini terjadi karena adanya fenomena atmosfer yang kami sebut haze,” ujarnya.
Bukan Asap dari Kalimantan
Terkait dugaan asap kebakaran hutan di Kalimantan terbawa angin hingga Maluku Utara, Dewi mengatakan peluangnya relatif kecil.
Menurutnya, kemungkinan asap terbawa hingga Maluku Utara sangat bergantung pada arah angin dan jarak antarwilayah.
“Kalau dari Kalimantan sampai ke Malut, kemungkinan kecil tidak akan sampai ke Malut, karena tergantung arah anginnya juga,” kata Dewi.
Ia menambahkan, jarak Kalimantan menuju Maluku Utara cukup jauh dan terdapat wilayah Sulawesi di antara kedua kawasan tersebut.
Karena itu, berdasarkan pengamatan sementara, kemungkinan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan mencapai Maluku Utara dinilai relatif kecil.
BMKG saat ini menjelaskan kondisi jarak pandang yang menurun di sejumlah wilayah Maluku Utara lebih berkaitan dengan fenomena atmosfer haze, meski kontribusi partikel dari sumber lain masih menjadi kemungkinan yang perlu dipantau. (*)
Sumber Berita: Wahana Malut






